Sabtu, 15 Mei 2010

"Dulu ketika masih berseragam putih abu-abu"

Dulu ketika berseragam putih abu-abu

Tepatnya 5 tahun yang lalu…..

Ada banyak cerita indah yang masih tersimpan didalam kotak kenangan dan berdiri kokoh didalam memory otak….

Ketika sebuah kata “Persahabatan” dianggap sakral…..

Aku seperti menemukan keluarga kedua pada saat itu…..

Bersama mereka yang mengatasnamakan

“ketulusan”

“Kebersamaan”

“kesetiaan”

“kesederhanaan”

Seolah menjadi syarat mutlak untuk kata yang dinamakan “Persahabatan itu”…..

Bersama mereka mengukir sebuah rencana dan mimpi-mimpi dengan mulai menjadi para pemimpi namun bukan “pemimpi” abadi melainkan para pemimpi yang didalamnya ada jiwa seorang petangguh seperti jiwanya para patriot di medan perang yang berjuang hingga batas tertinggi kemampuannya dan hingga detak jantung mereka berenti sampai akhirnya roh terpisah dari tubuh….

Mulai berpikir atas akan menjadi apa dan bagaimana kehidupan ku untuk 10, 20, 30 tahun yang akan datang atau bahkan saat tubuhku mulai renta kelak…

membawa ku untuk mulai menggambar sebuah “peta kehidupan” dan berharap bisa melalui rute-rute yg ada pada petunjuk peta dg sebaik mungkin hingga akhirnya sampai pada “titik tertinggi”.. titik dimana ada keharuan, kebanggan dan senyuman hangat tanda kelegaan atas pencapaian diri yang telah dilalui hampir selama kurun waktu ku hidup di dunia ini…

dan pada titik tertinggi itu para pemimpi-pemimpi yang dulunya berseragam putih abu-abu itu akan berkumpul kembali… dan berbagi cerita bersama seperti yang kami lakukan dulu…

Namun bedanya ini bukan lagi cerita dengan kata-kata “nanti AKU akan ” melainkan “sekarang AKU sudah”…..

Dulu ketika berseragam putih abu-abu

bersama mereka ada banyak cerita indah yang terukir… seperti mengunyah potongan kue cookies rasa vanilla coffe yang di setiap gigitannya terasa sedikit pahit dengan rasa manis yang mendominasi… karena setiap hal pasti ada hambatan yang menyertainya.. namun itu hanya bagian kecil dari kisah itu…

Dulu ketika berseragam putih abu-abu…

Bersama mereka selalu dipenuhi dengan gelak tawa…

Masih ingat ketika dengan semangatnya mengubah ruangan kelas menjadi penuh dengan kreasi tak peduli malam datang… dengan tenaga sisa dari aktivitas jam sekolah yang padat baik lelaki maupun wanita bersama-sama mengubah warna dinding kelas menjadi biru yag ditambah dengan ukiran-ukiran unik dari sekelompok para siswa pecinta seni…. Sebagai bentuk persiapan atas perlombaan 17 an..

Masih ingat ketika satu kelas berkumpul menjadi satu dan saling berlomba-lomba menyantap makanan dalam 1 Kuali besar.. (hahah tertawa kecil mengenangnya)…

Masih ingat ketika saat UAN bersama-sama saling bantu membantu dalam menyebarkan kunci jawaban…. Hanya agar tidak ada yang “gagal” …. Meski ini hal buruk yang tidak patut dicontoh….

Masih inget ketika bersama-sama melakukan ibadah puasa “sunnah” dan sholat berjamaah saat menanti pengumuman “kelulusan” yang hampir menguras pikiran di setiap malam menjelang tidur oleh hampir seluruh siswa tingkat 3…

Masih ingat ketika untuk pertama kalinya nama ku terukir dalam satu media massa terbitan dalam kota atas suatu pentas seni yang kami lakukan dan untuk pertama kalinya aku memperoleh uang atas jerih payah ku sendiri meski jumlahnya kecil namun itu menjadi suatu kebanggan bagi ku.. hal ini berkat suatu wadah seni yg berwujud dalam suatu ekstrakulikuler dengan nama “Teather Gita Persada” yang membuat namu ku sedikit banyak bergaung…

Dan karena wadah seni ini untuk pertama kalinya aku bisa menginjakkan kaki di Ibu kota tanpa bantuan orang tua ku… membawa nama provinsi yang meski bukan tempat aku dilahirkan… bertemu dengan banyak pecinta seni lainnya dari berbagai provinsi serta para seniman-seniman terkenal yang namanya sudah tidak asing lagi di dengar di Tanah Air tercinta ini….

Masih ingat hal-hal lain yang bila di uraikan dalam tulisan ini maka mungkin saja bisa mencapai lebih dari 100 halaman… karena cerita diatas itu hanya sebagian kecil saja..

Dulu ketika berseragam putih abu-abu

Saat kata “Perpisahan” itu datang…

Maka hanya ada isak tangis yang memenuhi seiisi ruangan gedung perpisahan…

Mengetahui akan lama sekali tidak berjumpa setelah ini

Mengetahui akan kehilangan teman-teman dan moment-moment terbaik untuk waktu yang relative lama yang belum tentu bisa didapat saat berada dilingkungan baru nanti…

Karena para pemimpi berseragam abu-abu akan mulai beranjak dengan peta hidup mereka masing-masing…

Mulai mengatur langkah masing-masing…

Mulai bertransisi menjadi para petangguh untuk merealisasikan rencana besar yang mereka buat saat itu…

Saat ini ketika seragam putih abu-abu tak lagi disandang…

Ketika mulai memasuki masa metamorfase baru dengan lingkungan yang baru…

Tampak ada sesuatu yang beda yang aku rasakan…

Yah semuanya atas dasar pertemanan..

Namun tanpa ketulusan didalamnya…..

Tanpa kebersamaan….

Tak jarang serasa hidup tanpa mereka.. karena jangan harap mereka akan muncul ketika kamu berada di ambang-ambang kesulitan dan titik terjenuh dalam hidup..

Mereka akan mencari mu nanti..

Pada saat mereka menghadapi kesulitan yang tidak bisa diatasi..

Pada saat mereka Cuma butuh bantuan…

Pertemanan yang dijadikan ajang pemanfaatan…

Tidak semua memang… namun kebanyakan seperti itu adanya…

Ketika itu kamu akan mulai merasa seperti hidup di “Amerika” yang serba individual… yang menjalin hubungan kekerabatan dengan prinsip “Simbiosis Mutualisme”…

Tak jarang sulit membedakan antara “musuh” dan “Teman”…

Ya..ya.. hidup memanglah seperti itu… ada banyak kepentingan didalamnya yang membuat manusia hidup dengan berjuta EGO didalam diri…

Maka saat aku mulai merasakan itu.. yang ku ingat hanyalah sekelumit kisah masa lalu dengan para pemimpi-pemimpi berseragam abu-abu…

Semoga kita tetap menjadi 1 Lingkaran..

Yang tidak ada ujung dan pangkalnya…

Yang tidak ada batasnya….

Yang tidak ada awal dan akhirnya…

Sangat Merindukan Moment Itu..

Ketika masih berseragam putih Abu-Abu…

_HERA SURVIVER_


Tidak ada komentar:

Posting Komentar